Apkasindo : Petani Sawit Menjerit Harga Pupuk Naik 120%

Apkasindo : Petani Sawit Menjerit Harga Pupuk Naik 120%
petani sawit / istimewa.
Spread the love

PODZOLIK.COM—Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung mengatakan, harga tandan buah segar (TBS) yang tengah membaik tidak sepenuhnya dinikmati oleh petani sawit.

Pasalnya, meski harga TBS kini sebesar Rp3.000 per kg, namun sejak Juni 2021 harga pupuk melonjak hingga 120%. Kondisi ini menurut Gulat menjadikan pendapatan petani sawit turun hingga hanya mendapatkan rata-rata Rp815.000 per hektare per bulan. Sebelum kenaikkan harga pupuk, petani sawit rata-rata mampu mendapatkan penghasilan rata-rata Rp1,1 juta per hektare bulannya.

“Harga pokok produksi (HPP) tandan buah segar (TBS) petani sewaktu harga pupuk masih normal Rp794 per kg. Namun HPP kami sekarang Rp1.350 per kilogram karena 58% pengeluaran untuk biaya pupuk,” kata Gulat, dalam Webinar Perbaikan Tata Kelola Pupuk yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian, (29/10/2021).

“Kami diobok-obok semuanya oleh pelaku produsen pupuk. Yang terjadi saat ini kami merasa dianaktirikan, saya sebagai Ketua sudah kehabisan kata-kata menahan amarah petani sawit dari 144 Kab Kota se Indonesia, semua bermula melihat fakta harga pupuk non subsidi meroket tajam naik 120%  dari harga sebelumnya,” umbar Gulat.

Gulat mempertanyakan kenaikan harga pupuk yang mengikuti kenaikan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit. Petani sawit meminta pemerintah untuk segera mencari tahu penyebab kenaikan harga pupuk dan meminta pabrik pupuk pelat merah jangan ikut-ikutan menaikkan harga harus menjadi kontrol, bukan sebaliknya.

“Kami petani sawit tidak pernah menuntut pupuk subsidi, tapi pupuk (non-subsidi) malah naik hingga 120%, jangan sampai kenaikan harga pupuk yang tak wajar mengancam kesuksesan program Peremanjaan Sawit Rakyat (PSR),” imbuh Gulat.

Gulat menjelaskan, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) terancam gagal karena anggaran biaya PSR sudah berantakan akibat kenaikan harga pupuk. Sebagai contoh pupuk urea sudah dipatok Rp4.500/kg sebelum adanya kenaikan. Namun sekarang sudah mencapai di atas Rp6.000/kg.

Dikatakan Gulat, selama ini petani sawit sudah sangat tertekan dengan Kawasan Hutan. Sekarang justru tambah lagi persoalan harga pupuk KLB (kejadian luar biasa), di saat yang bersamaan kementerian terkait (BUMN, Kementan) semua terkesan tiarap.

“Harga pupuk dipengaruhi tiga faktor utama yakni nilai tukar rupiah terhadap dollar, transportasi dan bahan dasar pupuk tersebut. Dan menurut pengamatan kami, ketiga faktor tersebut dalam keadaan normal, kecuali bahan baku yang sedikit naik, namun hal ini idealnya tidak mengakibatkan naik signifikannya harga pupuk,” tutur Gulat.

“Kami berharap Komisi IV DPR RI bisa segera memanggil kementerian terkait untuk mengevaluasinya, ini sudah KLB. Kami (petani sawit) tidak pernah menuntut pupuk subsidi, hanya meminta pemerintah serius dan fokus mengontrol harga pupuk yang non subsidi,” tutup Gulat. (sr)

Bagikan

Leave a Reply