Arti Penting Tahun 2045 Bagi Indonesia dan Industri Sawit Nasional

Arti Penting Tahun 2045 Bagi Indonesia dan Industri Sawit Nasional
Bungaran Saragih.
Spread the love

PODZOLIK.COM—Tahun 2045 memiliki arti penting bagi bagsa Indonesia. Sebab, pada saat tersebut Republik Indonesia akan menginjak usia 100 tahun. Diprediksi, dengan bonus demografi, Indonesia akan memasuki era keemasan, dan digadang masuk dalam jajaran Top-4 negara dengan perekonomian terbesar di dunia (setelah China, Amerika Serikat dan India). Sejalan dengan itu, tren permintaan pasar dunia akan minyak sawit diperkirakan juga akan terus meningkat menuju 2045.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Bungaran Saragih, Guru Besar IPB yang juga mantan Mentan, dalam webinar Upaya Mempercepat Peningkatan Produksi & Produktivitas Sawit Nasional yang Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas, yang diselenggarakan majalah AGRINA (22/12/2021).

Menurut Bungaran, Industri kelapasa sawit nasional harus memanfaatkan peluang tersebut dengan menjaga eksistensi dan keberlanjutan produksi minyak kelapa sawit Indonesia.

“Arah pengembangan industri kelapa sawit nasional menuju 2045, khususnya pada sektor hulu dalam rangka peningkatan produksi minyak dilakukan melalui peningkatan produktivitas (intensifikasi),” ujar Bungaran.

Pasalnya, Ekstensifikasi melalui ekspansi lahan tidak dapat dilakukan mengingat keterbatasan lahan dan masih berlakunya Inpres Moratorium Nomor 8 Tahun 2018. Selain itu, tuntutan konsumen global terkait aspek lingkungan juga merupakan salah satu aspek yang diperhatikan dalam rangka peningkatan produksi minyak kelapa sawit.

Bungaran menyebut strategi untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas parsial yaitu, perbaikan kultur teknis/manajerial pada kebun eksisting, dan peningkatan produktivitas total dengan perubahan varietas dan kultur teknis-manajerial atau replanting.

Kedua strategi dapat dilakukan dengan menyesuaikan sasaran tertentu, dengan strategi produktivitas parsial ditujukan pada kebun sawit Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan kebun sawit Tanaman Menghasilkan (TM), sedangkan strategi produktivitas total ditujukan pada kebun kelapa sawit yang berumur tua atau renta.

Di acara yang sama, Mula Putra, Sub Kordinator Pengembangan Kawasan Kelapa Sawit Kementan, mengungkapkan bahwa kelapa sawit merupakan industri andalan bagi perekonomian Indonesia. Industri kelapa sawit telah banyak menyerap tenaga kerja dan dengan nilai ekspor melebihi sektor minyak dan gas (nigas).

“Dalam aspek lapangan kerja telah menyerap 16,2 juta orang baik langsung maupun tidak langsung dan bisa menjadi salah satu bahan baku energi baru terbarukan,” ujar Mula.

Luas areal perkebunan kelapa sawit saat ini 16,38 juta hektare, dengan produksi sekitar 48,29 juta ton. Sejatinya kondisi tersebut masih rendah jika dilihat dari aspek produktivitas CPO yang baru mencapai 3,8 ton/ha/tahun

Menurut Mula, Kementan melalui Ditjen Perkebunan, akan terus melakukan upaya untuk peningkatan produktivitas sawit. “Strategi pemerintah menargetkan peremajaan sawit rakyat (replanting) seluas 540.000 haktare selama tiga tahun,” ujar Mula.

Pada acara yang sama, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, juga membeberkan peran industri sawit bagi perekonomian nasional. Menurutnya, saat ini harga sawit tengah membaik di tingkat petani sawit, dan memberi efek bagus bagi petani.

“Petani sawit lebih beruntung dari petani tanaman pangan atau hortikultura karena kami memperoleh pendapatan rata-rata Rp2,5 juta per hektare,” cetus Gulat.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengungkapkan, hilirisasi sejak tahun 2010 hingga 2020 itu sudah merubah struktur eskpor kelapa sawit.

“Tadinya 57 persen adalah eskpor CPO, sekarang tinggal 22 persen. Jadi olahan meningkat 38 persen menjadi 67 persen dan ini kemajuan hilirisasi yang harus kita apresiasi,” ujar dia.

Adapun nilai ekspor sawit periode Januari—Oktober 2021 sudah mencapai USD 30 miliar. “Diperkirakan hingga Desember 2021 devisa sawit mencapai USD 40 miliar, ini prestasi tertinggi yang akan dicapai industri sawit kita sepanjang idustri ini ada,” kata dia.

Tungkot menjelaskan, pentingnya peranan industri sawit dan B30 dalam neraca perdagangan Indonesia. “Adanya ekspor sawit dan program B30 Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan sepanjang sejarah,” tutur dia.

“Jadi yang membuat surplus neraca perdagangan adalah industri sawit bukan migas. Tanpa ekspor sawit dan B3o secara tidak langsung neraca perdagangan Indonesia menjadi defisit,” ujar dia.

Tungkot juga membeberkan beberapa catatan terkait industri sawit nasioanl yang harus secepatnya diperbaiki. Pertama terkait tren produktivitas tandan buah sawit (TBS) selama 10 tahun terakhir menurun dan biaya produksi CPO meningkat. Selain itu, ia juga menyorti mengenai legalitas lahan dan persepsi mengenai swit dari segi kesehatan serta lingkungan yang menurun di mata negara-negara Eropa

“Ini dapat berpengaruh terhadap konsumsi dan perbankan, begitu juga pasar saham, kebijakan pemerintah, dan perkembangan kompetitor sawit global,” imbuhnya. “Agenda penting menuju 2045 adalah peningkatan produktivitas termasuk perbaikan GAP (Good Agriculture Practices) dan efisiensi dalm budi daya,” sambung Tungkot.

Wakil Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Agam Fatchurrochman, juga memberi catatan bagi keberlanjutan industri sawit kedepan. Diataranya penyelesaian Sawit dalam kawasan hutan, percepatan PSR, penggunaan klon unggul sawit dalam peremajaan tanaman, dan penerapan GAP.

“Selain itu perlu juga ditekankan mengenai cara mengurangi losses (efisiensi panen, transportrasi, pengolahan), serta percepatan sertifikasi ISPO (memastikan sustainability),” tuturnya. (sr)

Bagikan