Kenali Tiga Musuh Utama Cabai

Kenali Tiga Musuh Utama Cabai
Tanaman cabai yang rusak terserang patek.
Spread the love

PODZOLIK.COM—Serangan dari Organisme Penggangu Tanaman (OPT) adalah salah satu faktor risiko besar dalam budi daya cabai. Tentu saja, agar usaha taninya sukses, para pelaku budi daya cabai mesti mengenal jenis-jenis OPT yang biasa menyerang tanaman cabai. Berikut 3 jenis OPT yang paling rawan dan rutin menyerang tanaman cabai.

Antraknose/Patek

Penyakit yang bisa menyebabkan 90% pertanaman cabai rusak ini, disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici dan Gloeosporium piperatum. Kedua cendawan tersebut bisa menyerang secara sendiri-sendiri atau juga menyerbu berbarengan.

Cendawan yang disebut terakhir, mulai menyerang sejak buah masih hijau atau muda. Bagian tanaman yang biasa dituju dari Gloeosporium piperatum adalah bagian ujung buah. Selanjutnya buah akan gugur sebelum sempat dipanen. Sedangkan Colletotrichum capsici menginakulasi bagian tengah buah. Alhasil, buah menjadi kering dan mengkerut. Cendawan ini lebih memilih merusak buah tua atau buah yang siap panen.

Infeksi pada buah cabai tua diketahui lebih cepat berkembang dan akan berlanjut ke fase pascapanen. Seragan patek umumnya dicirikan dengan adanya bercak cokelat kehitaman pada permukaan buah. Lalu, lama kelamaan buah akan menjadi busuk dan tidak layak dipanen.

Kedua cendawan penyebab patek tersebut, dapat menyebar melalui angin, sarana pertanian, bahkan melalui manusia. Karena itu tidak mengherankan apabila serangan patek pada tanaman cabai bisa meluas dengan sangat cepat. Tidak terkecuali, cendawan pun dapat menginfeksi biji dan bertahan dalam sisa-sisa tanaman sakit.

Selain itu, kondisi iklim yang kurang bersahabat juga turut menyebabkan kedua cendawan penyebab patek semakin merajarela. Contohnya saat cuaca panas, lalu tiba-tiba datang hujan, atau pun sebaliknya. Kondisi seperti itu membuat kelembapan lahan pertanaman meninggi, sehingga memperbesar peluang patek menyerang.

Bukan saja menyerang tanaman cabai, Antraknosa sejatinya juga menjadi ancaman bagi banyak jenis tanaman hortikultura. Diantaranya adalah tomat, mangga, melon, pisang, pepaya, alpukat, apel, anggur, nanas, seledri, anggrek, sanseviera, dan bromelia.

Kutu Kebul

Dari empat jenis hama penghisap yang rawan menyerang tanaman cabai, Silverleaf whitefly atau Bemisia tabaci, alias kutu kebul adalah jenis hama yang paling mengerikan. Sebab, si kutu kebul selain merusak tanaman cabai, juga dapat menularkan 110 jenis virus penyebab penyakit tanaman. Gemini virus, Carlavis, Potyvirus, dan Nepovirus, merupakan sebagain kecil jenis virus yang dapat ditularkan oleh kutu kebul ke tanaman.

Virus yang dibawa kutu kebul sangat membahayakan, bahkan diketahui lebih menakutkan dibandingkan serangan langsung kutu kebul terhadap tanaman. Apalagi sampai kini belum ada obat khusus untuk mengtasi virus secara langsung.

Kutu kebul pun bersifat polifag, yang berarti mempunyai banyak jenis inang. Setidaknya terdapat 500 jenis tanaman yang menjadi inang bagi kutu kebul, dengan sebagain besar adalah tanaman hortikultura. Alhasil, kutu kubul makin sulit dibasmi.

Di Indonesia, terdapat beberapa spesies kutu kebul, tetapi tidak mudah untuk dibedakan karena kemiripan morfologi dan ukurannya kecil. Namun, diduga ada dua jenis yang menyebar luas di nusantaran, yaitu biotipe A dan B. Perkembagnya akan semakin cepat dengan disokong peruabahan suhu udara yang semakin kering.

Kutu kebul memiliki nama lain yang cukup banyak. Secara internasional, serangga ini dinamai silverleaf whitefly. Namun ada juga yang menyebutnya sweetpotato whitefly dan tobaco whitefly. Di Indonesia, kutu kebul juga kerap disebut lalat putih. Sedangkaan dalam susunan taksonomi biologi, kutu kebul yang termasuk dalam kelas Insect atau serangga ini, berada dalam ordo Hemiptera dan famili Aleyrodidae.

Beberapa literatur menyebut, hama ini berukuran tubuh relatif kecil, yaitu hanya 0,8mm. Tubuhnya berwarna putih seperti salju, yang disebabkan oleh sekresi lilin di sayap dan tubuhnya. Selama makan atau beristirahat kutu kebul dewasa menutupi tubuhnya dengan sayap. Ketika menyimpan telur, betina akan meletakkan 50—400 butir telur dengan ukuran mulai 0.10mm—0.25mm di bagian bawah daun.

Virus

Selain penyakit, cabai juga rawaan akan terjangan virus. Hampir 80% serang virus akan menyebabkan kegagalan panen bagi petani. Dengan daya serangan kuat dan cepat, menjadikan virus gemini momok sangat menakutkan bagi petani cabai dan pelaku usaha. Apalagi sampai kini belum ada obat khusus untuk menanggulangi virus secara langsung.

Ciri tanaman yang terserang virus terlihat dari warna daun yang menguning. Berbeda dengan gejala serangan penyakit, warna kuningnya terlihat lebih terang dan sedikit pucat. Ciri tersebut mulai terlihat pada saat tanaman berumur 30 hari, meski serangnya bisa terjadi mulai dari pembibitan. (sr-berbagaisumber)

Bagikan