Ternyata Indonesia Produsen Kubis Terbesar Nomer 7 Sejagad

Ternyata Indonesia Produsen Kubis Terbesar Nomer 7 Sejagad
Spread the love

PODZOLIK.COM—Dari lebih 400 jenis sayuran, kubis termasuk bahan hidangan masakan favorit di seluruh dunia. Dalam menu masakan, kubis alias kol (Brassica oleracea) dihidangkan dengan berbagai metode seperti dikukus, ditumis, dan diris-iris sebagai bahan utama salad yang dimakan mentah. Bahkan, kubis mentah pun digunakan untuk membuat jus. Sedangkan di Indonesia, kubis mentah juga dimakan segar sebagai lalapan.

Secara global, sekitar 72 juta ton kubis diproduksi setiap tahunnya. Sayuran daun ini dibudidayakan di 150 negara berbeda seluas 3,8 juta hektare per tahun.

Sekitar 90% kubis dunia diproduksi di Asia dan Eropa. Saban tahun, China tak kurang memproduksi 32,8 juta ton. Negara Asia lainnya yang masuk dalam daftar 10 besar produsen kubis adalah India (8,5 juta ton), Rusia (3,3 juta ton), Jepang (2,3 juta ton), Korea Selatan (2,1 juta ton), dan Indonesia (1,5 juta ton).

Sementara negara penghasil kubis teratas di Eropa adalah Ukraina (1,9 juta ton), Polandia (1,2 juta ton), dan Rumania (990.154 ton). Khusus Amerika Serikat, tiap tahun memproduksi sekitar 964.830 ton.

Nomor 7 Tebesar

Sebagai produsen kubis nomor 7 terbesar sejagad, setiap tahun Indonesia memproduksi rata-rata sekitar 1,5 juta ton kubis. Dari jumlah tersebut, lebih dari 95% produksi kubis dikonsumsi oleh masyarakat dalam negeri.

Kubis dibudidayakan di Indonesia hampir di 28 propinsi. Sentra utama penanaman kubis utamanya yaitu Jawa tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, Sumatera Utara, serta Bengkulu.

Walapun Indonesia telah menghasilkan di atas 1 juta ton per tahun, dalam tiga tahun terakhir masih mengimpor kubis. Menurut catatan BPS, kurun 2015—2017 Indonesia masing-masing mengimpor 4.456 ton, 832.249 ton, dan 1.930 ton.

Prospek Bagus

Kubis punya prospek pasar yang besar, baik untuk kebutuhan lokal maupun pasar ekspor. Sementara dari sisi analisis usaha, bertanam kubis pun terbilang sangat menguntungkan untuk digarap.

Untuk luasan 1 hektare, kurang lebih akan dapat menghasilkan panen sebanyak 60—70 ton. Sedangkan harga jual di tingkat petani, normalnya berkisar Rp2 ribu—Rp3 ribu per kg. Artinya, per siklus tanam, yang hanya berlangsung 3 bulan, petani bisa mengantongi omzet hingga 120 juta-an. (sr-dw)

 

Bagikan