Pemerintah Sederhanakan Kemasan Bantuan Pangan

Pemerintah Sederhanakan Kemasan Bantuan Pangan
Spread the love

PODZOLIK.COM – Guna mengatasi fluktuasi bahan baku plastik yang melanda secara global, pemerintah tetap mengutamakan penyaluran program bantuan pangan. Upaya percepatan penyaluran digenjot meski terdapat kendala kemasan, sehingga perlu dilaksanakan berupa simplifikasi kemasan yang lebih sederhana, namun tetap menjaga kualitas.

“Kemarin kita agak terhambat karena faktor geopolitik, penyediaan kemasan itu kan menggunakan biji plastik. Tapi alhamdulillah sekarang sudah berjalan dan ini bisa kita lakukan percepatan,” kata Pemimpin Wilayah (Pimwil) Perum Bulog Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Banten Taufan Akib ditemui di Gudang Kelapa Gading Sunter, Jakarta (6/5/2026).

“Begitu kemasan datang, langsung kami repack, langsung kami salurkan sehingga bantuan pangan tidak terhambat,” tambah Pimwil Taufan.

Kanwil Bulog Jakarta Banten pun mengatakan simplikasi kemasan beras bantuan pangan perlu dilakukan. Pimwil Taufan memastikan bahwa penyederhanaan kemasan tidak berdampak pada kualitas. Penyesuaian hanya dilakukan pada aspek visual agar lebih praktis dan efisien.

“Untuk tampilan (kemasan) yang tadinya kita degradasi warna ada 4 sampai 2 warna, sekarang menggunakan 1 warna. Tapi dari segi kualitas kemasan itu tetap tidak menurunkan standar kualitasnya. Dari segi kualitas masih sama cuma dari segi huruf saja atau tulisan lebih sederhana,” urai dia.

Sementara itu, untuk kemasan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Kanwil Bulog Jakarta Banten ini masih menggunakan desain sebelumnya. Hal ini karena stok kemasan yang ada masih mencukupi sebelum terjadi kendala pasokan bahan baku plastik.

Sebelumnya, Bapanas telah memberikan kebijakan perpanjangan batas waktu penyaluran bantuan pangan hingga 31 Mei. Ini berasal dari permohonan perpanjangan waktu yang diajukan oleh Perum Bulog pada akhir Maret 2026 lalu. Semula program bantuan pangan ini merupakan periode Februari dan Maret.

Untuk itu, Bapanas meminta Bulog agar dapat mengatasi kendala kemasan. Apabila pada saat penyaluran belum tersedia kemasan yang sesuai kriteria program bantuan pangan, Bulog dapat menggunakan kemasan lain yang tersedia dengan menambahkan identitas program bantuan pangan yang disematkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

“Selanjutnya agar Bulog melakukan percepatan penyaluran melalui beberapa langkah dengan memanfaatkan kemasan yang tersedia. Apabila belum tersedia kemasan yang sesuai dengan kriteria dapat menggunakan kemasan dengan menambahkan identitas bantuan pangan sebagai bagian yang tidak terpisahkan,” kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dalam warkatnya ke Bulog.

Untuk diketahui, program bantuan pangan turut memberikan stimulus ekonomi untuk menunjang konsumsi masyarakat. Program bantuan pangan berupa penyaluran beras dan minyak goreng secara gratis telah menjadi salah satu program stimulus ekonomi yang diandalkan pemerintah.

Dalam catatan Bapanas, selama triwulan pertama tahun ini yaitu Januari sampai Maret 2026, program bantuan pangan masih dijalankan Perum Bulog. Januari dan Februari merupakan perpanjangan dari 2025 dan Maret menjadi permulaan bantuan pangan beras dan minyak goreng dengan anggaran tahun 2026.

Selama triwulan pertama ini, total Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang telah menerima bantuan pangan mencapai 1,85 juta KPM dengan total beras 37,1 juta kilogram dan 7,4 juta liter minyak goreng. Realisasi tersebut terdiri dari Januari dan Februari yang telah disalurkan ke 992,8 ribu KPM dan Maret yang telah berhasil menyasar 864 ribu KPM.

Sementara, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi triwulan pertama dari segi pengeluaran. Pertumbuhan ekonomi secara tahunan Indonesia pada triwulan pertama tahun 2026 menjadi yang paling tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan raihan 5,61 % di triwulan pertama 2026 ini belum pernah dicapai pada tahun-tahun sebelumnya.

Adapun dari sisi pengeluaran, daya beli masyarakat masih terjaga secara konsisten. Hal ini tercermin dari porsi kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang bersumber dari konsumsi rumah tangga dengan kontribusi hingga 54,36 % dan pertumbuhan 5,52 %.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tertinggi ada di pengeluaran kelompok restoran dan hotel dengan 7,38 % dan kelompok transportasi dan komunikasi 6,91 %. Sementara kelompok makanan dan minuman selain restoran punya andil terhadap pertumbuhan konsumsi rumah tangga di 4,54 % (af)

Foto : dok.bapanas.

Bagikan