CPI Hibahkan Kandang Layer Ke-3 di Banyumas

PODZOLIK.COM– PT Charoen Pokphand Indonesia melalui Charoen Pokphand Foundation Indonesia (CPFI) meresmikan hibah kandang ayam petelur Merah Putih ke-3 di Desa Tipar, Kecamatan Rawalo, Banyumas (25/8/2025). Program ini diharapkan menjadi pemicu kemandirian pangan masyarakat sekaligus mendukung upaya penanggulangan stunting.
Seremonial acara dihadiri berbagai kalangan mulai dari Thomas Effendy selaku Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia sekaligus pimpinan CPFI beserta jajaran, Prof. Ali Agus selaku Staf Ahli Menteri Pertanian, Prof. Ahmad Sodiq selaku Rektor Unsoed, Novie Andri Setianto selaku Dekan Fakultas Peternakan, serta Sulistiyono selaku Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas.
Camat Rawalo, Bambang Junaidi membuka sambutan dengan menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas program yang diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan warganya Rawalo.
Menurutnya, hibah kandang ayam ini lengkap dengan bibit, pakan, dan fasilitas pendukung, harapannya bisa menjadi titik awal bagi masyarakat Rawalo untuk meningkatkan kesejahteraan. Ia juga berharap Rawalo bisa lebih maju, masyarakatnya sejahtera, dan administrasi lebih rapi.
Masih dalam kesempatan yang sama, Thomas Effendy selaku Presdir CPI menegaskan bahwa hibah ini tidak sekadar seremonial, tetapi harus dikelola dengan serius agar manfaatnya bisa berkelanjutan dan dirasakan banyak orang.
“Kandang ini adalah hibah kandang Merah Putih yang ke-3, setelah dua prototipe sebelumnya di Sleman dan Nglipar berhasil. Selain memberikan kandang, kita juga masukkan 600 ekor pullet. Memang pullet belum langsung menghasilkan, tapi tetap harus diberi makan. Selama masa pullet ini kita support pula pakannya”.
Ia berharap adanya program ini bisa menjadi suatu pemicu untuk banyak perusahaan lain, agar pemberi manfaat semakin banyak dan otomatis penerima manfaatnya pun bertambah. Dalam kesempatan ini juga ia menyampaikan bahwa kedua kandang hibah sebelumnya berjalan baik dan kini berkembang menjadi pusat penelitian bagi mahasiswa, organisasi dan masyarakat sekitar.
Sejalan dengan hal tersebut, sambutan dari Rektor Universitas Jenderal Soedirman, Prof. Ahmad Soedik yang mengingatkan pentingnya kekompakan dan pendampingan agar program berjalan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa hibah ini bukan hanya sekadar membangun kandang, tetapi juga membangun komitmen dan kesungguhan.
“PR yang utama itu jangan sampai ada iri dan dengki. Karena ayam ini belum bertelur, hasilnya belum terlihat. Kalau tidak dijaga, semangat bisa kendor. Maka harus ada pendampingan dan semangat bersama,” tegasnya.
Beliau juga menegaskan pentingnya generasi muda untuk terlibat. Ia bahkan mencontohkan peluang anak-anak desa penerima hibah untuk bisa kuliah di Fakultas Peternakan, baik di Unsoed maupun di kampus lain, dengan dukungan beasiswa.
“Kalau kita bersama-sama, bersatu, saya yakin Indonesia Emas 2045 bukan hanya slogan, tapi bisa kita wujudkan,” tambahnya.
Acara ditutup dengan sambutan Prof. Ali Agus, selaku Staff Ahli Kementan, ia menekankan jangan sampai program ini peresmiannya hari ini, besok sudah tutup. Kuncinya pendampingan dan kesungguhan. Kalau dalam bahasa Jawanya, harus ‘tenanan’.
“Kalo kita hitung potensi ekonomi kandang 600 ekor ayam dengan produksi 80% per hari, menghasilkan sekitar 480 butir telur. Kalau dihitung, satu meter persegi kandang bisa memberi nilai tambah hingga Rp2,5 juta per tahun. Ada nggak lahan lain yang bisa menghasilkan sebesar itu? Kalau ada, mungkin ganja, tapi itu dilarang,” yang selanjutnya disambut gelak tawa.
Prof. Ali Agus juga menegaskan kaitan program ini dengan upaya nasional mengatasi stunting. Telur adalah sumber protein hewani paling murah dan mudah didapat. Maka program hibah kandang Merah Putih ini sangat strategis.
Acara ditutup dengan penandatanganan berita acara hibah kandang Merah Putih sebagai bentuk simbolik dari pemberian kandang kepada para penerima manfaat. (af)
Foto : Istimewa.