EWINDO Resmikan Gedung RND Sekaligus Gelar Expo Nasional

EWINDO Resmikan Gedung RND Sekaligus Gelar Expo Nasional
Spread the love

PODZOLIK.COM—Perusahaan benih hortikultura PT East West Seed Indonesia (EWINDO), meresmikan gedung research and development (RND) pada 11/7/2023. Gedung tersebut didirikan di kantor pusat EWINDO yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat.

Managing Director EWINDO, Glenn Pardede, mengungkapkan bahwa RND merupakan dasar utama kelangsungan pertanian, khususnya Indonesia. Oleh karena itu, EWINDO sangat konsen dalam mengembangkan riset dan inovasi, salah satu jalannya dengan pembangunan gedung RND.

“Pertanian tergantung pada benih. Jika benih bermutu maka hasilnya akan bagus. RND dapat menambah mutu hasil pertanian ke depan, “ ungkap Glenn.

Sementara itu, Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto yang hadir dalam kegiatan tersebut mengaku kagum dan bangga atas riset simultan yang dilakukan perusahaan benih swasta tersebut.

“Berbicara investasi jangka panjang, artinya harus ada research and development (RND) berjangka panjang. Hal ini sangat disadari oleh PT East West Indonesia dan saya kira patut dilakukan perusahaan benih lainnya agar benih kita sejajar dengan negara lain,” ujarnya.

Dalam sambutannya Prihasto juga menyebutkan, meski perhatian utama pihaknya terfokus pada bawang dan cabai, namun sesungguhnya hortikultura terdiri dari 564 komoditas. Dari jumlah tersebut baru ada 88 komoditas yang resmi masuk ke dalam data statistik. Sementara 15 komoditas lain sedang berproses.

“Saat ini kita ingin komoditas lokal dikenal dunia. Permasalahannya ada pada pemasaran di mana kita ingin sekali mendorong ekspor. Apa sih yang kita tidak punya dari negara-negara tetangga misalnya Thailand? Pasar durian contohnya. Tercatat pada 2020 – 2021 pasar durian dunia mencapai Rp 18 triliun. Angka itu bertambah kemudian sekarang Rp 55 triliun. Indonesia masih jauh kalah,” terang Prihasto.

Dirinya mengakui bahwa kendala utama ekspor yaitu unsur 3K (Kualitas, Kuantitas, Konyinunitas) yang belum dikuasai penuh oleh petani atau pelaku usaha.

“Kalau pun sudah memenuhi kuantitas dan kualitas, kontinuitas belum kita kuasai. Jika ada eksportir mau cari manggis misalnya, harus mencari di spot-spot yang saling berjauhan lokasi. Inilah yang kemudian kita bentuk kampung hortikultura. Dengan adanya one village one variety, selain memudahkan juga dari segi biaya lebih murah. Konsep inilah yang sudah dikenal lebih dulu oleh Thailand,” papar Prihasto.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, yang juga turut hadir mengatakan bahwa pangan merupakan salah satu fokus perhatian BRIN di mana terdapat setidaknya 12 bidang yang terkait pangan.

“Di BRIN terdiri dari 10 ribu peneliti, di mana 1300 pegawainya berasal Kementerian Pertanian. Kami fokus ke bahan pangan utama untuk penanganan el nino dan kelangkaan pangan, mengurangi impor. Dengan adanya PT East West Indonesia ini kami menawarkan proyek penelitian bersama berikut publikasi hasil penelitiannya,” ungkap Puji.

Peresmian gedung RND EWINDO juga dibarengi dengan Expo Nasional. Kegiatan tersebut menampilkan beragam tanaman hortikultura yang hasil riset perusahaan dengan merek dagang Cap Panah Merah tersebut.

Salah satu tanaman yang menarik perhatian adalah bawang bombay merah dan kuning. Kedua varian bawang bombai tersebut memiliki siung berukuran besar, dengan tingkat produktivitas 30—40 ton per hektare. Denvan keunggulan tersebut keduanya ditengarai mampu mengatasi ketergantunyan impor Indonesia akan bawang bombay.

“Kita punya dua bawang bombay yaitu bawang bombay merah BB 121 dan bawang bombay kuning BB 110. Keduanya merupakan hasil seleksi dari 40 jenis bawang bombay,” terang Produk Development Support Manager PT East West Seed Indoensiq, Abdul Kohar.

Kohar menyebut, bawang bombay yang sedang didaftarkan ke Kementerian Pertanian ini dari segi budi daya ini tidak jauh berbeda dengan TSS.

“Secara budidaya tidak jauh beda dari bawang merah pada umumnya yang berasal dari biji atau TSS. Kami sudah melakukan penelitian bahwa keunggulan dari bawang bombay ini adalah bisa ditanam di dataran tinggi dan dataran rendah. Ketika coba dilepas ke pasar, petani kami mengatakan harga jual Rp 25 ribu kg diterima dengan baik oleh masyarakat,” pungkas Kohar. (rs)

Foto : Istimewa.

Bagikan