Bapanas Subsidi Biaya Distribusi Cabai
PODZOLIK.COM—Program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) diandalkan pemerintah untuk menyiasati fluktuasi harga pangan yang terjadi pada daerah yang bukan sentra produksi. Pemerataan pasokan dari daerah sentra produksi dapat ditopang dengan anggaran subsidi FDP pemerintah yang menanggung biaya pengiriman ke daerah yang membutuhkan.
Dalam hal ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) melaksanakan FDP berbagai komoditas. Salah satu yang telah direalisasikan adalah pengiriman cabai rawit merah hasil panenan dari Champion Cabai Probolinggo, Jawa Timur yang merupakan binaan Kementerian Pertanian (Kementan).
Sebanyak 3 ton atau dalam kemasan 100 koli dikirimkan melalui angkutan udara dengan tujuan Manado, Sulawesi Utara. Nantinya pasokan cabai rawit merah bersubsidi tersebut dilepas melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang menyasar masyarakat yang ada di Manado, Minahasa Utara, dan Tomohon.
“Jadi untuk komoditas cabai, ini memang inflasinya cukup tinggi di September, sehingga Bapanas membantu memberikan subsidi untuk pengiriman ke daerah yang bukan sentra produksi. Harga cabai harus ditekan supaya inflasi nantinya menjadi lebih terkendali,” terang Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan dikutip di Jakarta (17/10/2026).
“Bulan kemarin inflasi yang paling terbesar, nomor satu itu adalah cabai rawit. Kemudian cabai merah. Jadi cabai-cabaian ini seluruhnya, inflasinya sangat tinggi, harus segera kita redam,” kata Hermawan lagi.
Dalam pantauan harga Bapanas, untuk wilayah Sulawesi Utara mengalami fluktuasi harga cabai rawit merah pada tingkat konsumen yang cukup tinggi. Per 16 Oktober, rerata harga cabai rawit merah di sana telah menyentuh hingga Rp 127.604 per kilogram (kg).
Sementara jika dibandingkan terhadap kondisi rerata harga cabai rawit merah di Jawa Timur, cukup jauh signifikan karena lebih rendah hampir separuhnya. Per 16 Oktober, rerata harga cabai rawit merah Jawa Timur cukup baik pada Rp 58.720 per kg.
Adapun komoditas cabai dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi pendorong utama pada inflasi umum di September tahun 2026. Cabai rawit memiliki andil paling tinggi dengan 0,08 persen dan cabai merah menyumbang andil 0,06 persen terhadap inflasi umum secara bulanan.
Provinsi Jawa Timur sendiri termasuk daerah sentra produsen cabai rawit merah. Kemudian Kabupaten Probolinggo sendiri diproyeksikan Kementan dapat menghasilkan cabai rawit merah selama Oktober 2026 ini mencapai 3,95 ribu ton dengan luas panen sekitar 770 hektare.
Ini pun telah dipastikan oleh Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan Sudi Mardianto. Menurutnya, sebaran Champion Cabai dapat menjadi solusi pemerataan pasokan dari sentra produksi disalurkan ke daerah yang sedang mengalami fluktuasi harga cabai rawit merah.
“Posisi kabupaten-kabupaten yang keberadaan Champion Cabai, ini adalah salah satu solusi untuk bagaimana kita dapat mengendalikan kondisi harga cabai di beberapa provinsi yang mengalami lonjakan cukup tinggi,” ungkap Sudi dalam rapat pengendalian inflasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta (12/10/2026).
Sudi mengungkap bahwa produksi komoditas cabai secara nasional selama Oktober ini berada di level yang mencukupi untuk menunjang kebutuhan konsumsi nasional. Surplus ini yang perlu didistribusikan secara merata.
“Jadi untuk cabai, posisi produksi pada bulan Oktober untuk cabai rawit sekitar 133 ribu ton. Kemudian untuk cabai besarnya sekitar 115 ribu ton dan posisi produksi ini apabila dibandingkan dengan tingkat konsumsinya yang berkisar 70 ribu ton, itu sebetulnya kita secara agregat masih mengalami surplus” kata Sudi.
Kementan juga mengupayakan produksi cabai nasional kuat menjelang akhir tahun dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan di awal tahun depan. Ini penting untuk menjaga kestabilan harga cabai nasional saat permintaan konsumsi cenderung naik pada momentum akhir tahun dan HBKN.
“Selama 2 bulan terakhir, kami upayakan agar di hari Natal dan Tahun Baru khususnya dan menjelang Ramadan di tahun 2027, gejolak harga cabai tidak terlalu tinggi. Ini di 2 bulan yang pertama di September-Oktober itu untuk cabai rawit ada sekitar 1.023 hektare tanaman baru. Kemudian untuk cabai besar ada 1.070 hektare,” pungkas Sudi. (dl)

