Ultah Ke-50, GPMT Gelar Seminar Prospek Bisnis Perunggasan 2027
PODZOLIK.COM—Merayakan Ulang tahun ke-50, Gabungan Perusahaan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), menggelar Seminar bertajuk “From Challenges to Opportunities: Evaluasi Bisnis Perunggasan 2026, Akselerasi Pertumbuhan 2027” di ICE BSD, Tangerang, Banten (5/11/2026). Kegiatan tersebut juga sebagai sarana membahas perkembangan industri perunggasan sepanjang 2026, sekaligus menerawang prospek 2027.
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Seminar Nasional GPMT 2026, Yetti Liza, mengatakan bahwa tema yang diangkat mencerminkan kondisi sekaligus misi besar industri perunggasan.
“2026 bukan tahun yang mudah bagi industri perunggasan. Kita dihadapkan pada fluktuasi harga dan ketersediaan pakan. Harga unggas dan akuakultur masih menghadapi tekanan dan belum sepenuhnya berada di tingkat ideal untuk keberlanjutan usaha,” ujarnya.
Menurut Yetti, bahan pakan memiliki porsi terbesar dalam struktur biaya produksi, sehingga perubahan yang terjadi pada sektor tersebut berdampak terhadap industri dari hulu hingga hilir. Ia menyebutkan, pelaku industri telah melewati berbagai tantangan sepanjang 2026. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama untuk mengubah tantangan menjadi peluang agar industri perunggasan berkembang dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan sama, Direktur Pakan Ditjen PKH Kementan, Tri Melasari, menyampaikan bahwa hasil survei menunjukkan biaya produksi, kondisi makroekonomi, dan ketegangan geopolitik menjadi tantangan utama yang dihadapi industri.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, Tri menilai peningkatan produktivitas tetap membuka peluang bagi industri perunggasan. Ia mencontohkan perkembangan industri perunggasan Amerika yang menunjukkan peningkatan produktivitas melalui sinergi manajemen, pakan, dan kesehatan hewan.
Dari sisi domestik, potensi pasar Indonesia juga dinilai masih besar seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Jumlah penduduk diperkirakan mencapai 297 juta jiwa pada 2027, dengan 67,5% di antaranya masuk usia produktif. Sejalan itu, konsumsi unggas ditaksir akan naik dari 21,2 kg/kapita/tahun menjadi 29,6 kg/kapita/tahun.
Tri menyampaikan bahwa komponen pakan memiliki porsi besar dalam biaya produksi, yakni sekitar 67,82 % pada broiler dan 74% pada layer di perusahaan besar. Oleh karena itu, “Industri pakan dan perunggasan tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” beber TRI yang juga menyebut sejumlah tantangan seperti biaya energi dan tenaga kerja, harga komoditas dan bahan baku impor, ketidakpastian global, logistik, dan ketersediaan jagung, perlu dikelola bersama.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Asrokh Nawawi, dalam paparannya menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, agar usaha tetap stabil.
“Bicara soal perunggasan, kalau hanya mau memproduksi ayam itu mudah. Itu hal yang mudah, tapi bagaimana menjaga suplai dan demand sehingga menjadi usaha yang stabil dan menguntungkan stakeholder,” ungkap Asrokh.
Ia menjabarkan, pengaturan populasi ayam perlu dilakukan terencana dari hulu hingga hilir. Perhitungan tersebut mencakup jumlah penduduk, konsumsi per kapita, kebutuhan ayam, hingga jumlah DOC (ayam umur sehari), parent stock (PS), dan grand parent stock (GPS) yang diperlukan.
Asrokh menyebutkan, produksi DOC pada 2026 diperkirakan 4,3 miliar ekor, sedangkan kebutuhan diperkirakan 3,8 miliar ekor. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kelebihan pasokan apabila produksi tidak disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Masuknya GPS pada 2024 yang terkonsentrasi dalam periode April—Desember juga menjadi sorotan Asrokh. Menurutnya, kondisi tersebut turut menyebabkan kelebihan pasokan sementara dan berdampak pada penurunan harga.
Terkait prospek 2027, Asrokh memperkirakan produksi DOC sebanyak 3,8–3,9 miliar ekor. Produksi diperkirakan mengalami penurunan pada pertengahan tahun sebelum kembali meningkat pada kuartal III dan IV. Ia menegaskan bahwa pengendalian produksi perlu dilakukan secara berkala dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar agar harga tetap menguntungkan bagi seluruh pihak.
Masih dalam acara sama, Ketua Umum GPMT, Tevi Melviana, menyampaikan bahwa kenaikan nilai tukar rupiah menjadi tantangan bagi industri pakan, lantaran sebagian kebutuhan bahan baku didatangkan melalui impor.
Tevi menyoroti besarnya potensi industri perunggasan Indonesia. Industri ini berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein masyarakat, menyerap sekitar 10% tenaga kerja nasional, dan memiliki omzet sekitar Rp 700 triliun per tahun.
Menurutnya, sekitar dua pertiga konsumsi protein masyarakat Indonesia berasal dari produk unggas, baik daging maupun telur. Meski demikian, industri perunggasan juga menghadapi tantangan struktural seperti ketergantungan impor GPS, persoalan kesehatan hewan, serta tingginya biaya infrastruktur dan logistik.
Dalam industri pakan, Tevi menjelaskan bahwa sekitar 85% faktor produksi berkaitan dengan bahan baku dan 15% lainnya berkaitan dengan teknologi. Kondisi tersebut membuat industri pakan sangat bergantung pada ketersediaan serta harga bahan baku. Sementara itu, kemampuan menaikkan harga jual pakan juga menghadapi keterbatasan.
“Industri pakan kini tidak cukup hanya mengandalkan penjualan pakan. Model bisnis mulai bergerak menuju konsep from feed to food, sehingga diperlukan kerja sama dan integrasi antara sektor pakan dan peternakan,” ungkapnya.
Pentingnya kolaborasi juga menjadi catatan penting Tevi. Menurutnya, tantangan yang dihadapi industri pada 2026 perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kesiapan bisnis pada 2027. (rs)

