Kenya Siap Bangun Cold-Chain Hub Senilai USD 35 Juta
PODZOLIK.COM—Kenya menjadi negara di benua Afrika yang sangat serius mengembangkan pertanian, khususnya subsektor hortikultura. Tercatat pada 2025, Kenya menghasilkan pemasukan dari perdagangan hortikultura yang dilakukannya sebesar US$1,68 miliar. Negara ini juga rutin mengekspor ke Uni Eropa, termasuk Ke Belanda.
Terbaru, Kenya berencana membangun pusat rantai pendingin (cold-chain hub) untuk menekan 25% biaya transportasi dan emisi karbon hingga lebih dari 90%. Seperti dikutip dari hortidaily dan nation.co.ke, mega proyek tersebut akan dibangun di Naivasha, dengan nilai pembangunan ditaksir mencapai €30 juta atau USD 35 juta yang didukung oleh Belanda dan Uni Eropa.
Proyek Northern Corridor Cool Logistics ini, akan mengonsolidasikan komoditas berupa bunga, avokad, buah-buahan, dan sayuran dari Kenya, Uganda, Rwanda, serta Republik Demokratik Kongo, sebelum diangkut menggunakan kereta api menuju Mombasa untuk kemudian dikirim ke Eropa.
Penyelesaian pendanaan ditargetkan tercapai pada tahun 2027, dengan konstruksi yang diperkirakan akan dimulai pada tahun 2028.
Pembangunana fasilitas ini bertujuan untuk meminimalkan kerugian pascapanen, meningkatkan sistem logistik dengan pengaturan suhu, serta mengoordinasikan pengiriman antara pihak petani, eksportir, dan pembeli internasional.
Menurut Kementerian Pertanian Kenya, kerugian pascapanen mencakup 30–40% dari total hasil pertanian, yang sebagian besar disebabkan oleh infrastruktur yang tidak memadai serta penanganan yang kurang tepat selama proses panen, pengangkutan, dan penyimpanan.
Proyek ini dirancang untuk mengatasi masalah tersebut melalui penyediaan fasilitas penyimpanan dingin, konsolidasi pengiriman, dan konektivitas jalur kereta api. Efektivitasnya akan sangat bergantung pada ketersediaan listrik, pengelolaan suhu, transportasi dari lahan pertanian ke pusat logistik, serta koordinasi di sepanjang rantai pasok.
Berdasarkan data dari Biro Statistik Nasional Kenya, pendapatan ekspor hortikultura Kenya meningkat sebesar 6,3% menjadi sekitar US$1,68 miliar pada tahun 2025, dibandingkan dengan US$1,58 miliar pada tahun 2024. Bunga potong menyumbang sekitar US$801 juta, sementara buah-buahan dan sayuran berkontribusi sebesar US$774 juta.
Namun, volume ekspor hortikultura tercatat mengalami penurunan dari 468.438 ton pada tahun 2023 menjadi 402.195 ton pada tahun 2024. Pengiriman sayuran turun dari sekitar 164.100 ton menjadi 66.643 ton, sedangkan ekspor buah-buahan meningkat dari 188.102 ton menjadi 225.415 ton.
TradeMark Africa dan Invest International bekerja sama dengan mitra-mitra dari Belanda dan Uni Eropa dalam proyek ini, dengan rencana penyediaan fasilitas pendukung di Uganda dan Rwanda.
Belanda tetap menjadi tujuan ekspor bagi produk hortikultura Kenya; pada tahun 2024, negara tersebut mengimpor bunga potong senilai kurang lebih US$290 juta serta avokad senilai US$50,5 juta.
Dampak proyek ini terhadap para petani akan bergantung pada akses terhadap layanan, pengaturan pengumpulan hasil panen, biaya transportasi, serta ongkos logistik berpendingin. (rs-berbagaisumber)
Foto : ist

