NFA Bantu Urai Ternak Sisa Penjualan Kurban

NFA Bantu Urai Ternak Sisa Penjualan Kurban
Spread the love

PODZOLIK.COM—Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) berperan aktif mencari solusi atas keberadaan ternak sisa penjualan pada momen Idul Adha di Jabodetabek yang tidak bisa dibawa pulang ke daerah asal.

Pasalnya, untuk menghindarkan kerugian dan resiko penyebaran penyakit LSD, ternak tersebut dapat diserap untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga daging sapi di Jabodetabek sebagai daerah konsumsi.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala NFA Arief Prasetyo Adi, melalui keterangan resminya. Menurutnya, keberadaan sapi yang tidak bisa kembali ke daerah asal bisa merugikan peternak rakyat.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, NFA bertindak mempertemukan stakeholder terkait mencari solusi, salah satunya mendorong dilakukan penyerapan oleh pelaku usaha pangan BUMN, BUMD, dan swasta.

“Kemarin sudah mengundang pihak terkait seperti Gubernur NTB, perwakilan Kementerian/Lembaga terkait Kantor Staf Presiden (KSP), Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Dinas Provinsi terkait, Perum Bulog, ID Food, PT Berdikari, Perumda Dharma Jaya, Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), dan peternak. Kita mendorong disepakati langkah solutif yang tidak merugikan pihak manapun. Salah satunya mendorong penyerapan oleh BUMN dan BUMD pangan guna memenuhi kebutuhan daging di Jabodetabek sekaligus menghindarkan kerugian peternak,” ungkapnya, (5/7/2023).

Diketahui saat ini sisa sapi hidup yang tidak terjual pada Hari Raya Idul Adha 2023 dan tidak bisa dikembalikan ke daerah asal sebanyak 2.152 ekor yang terdiri dari 1.140 ekor dari NTB dan 662 ekor dari NTT.

“Sisa hewan yang akan dikembalikan ke daerah asal sebagian besar dari NTB. Peternak kesulitan menjual karena masa HBKN Idul Adha telah usai. Situasi ini dimanfaatkan oknum yang menawar dengan harga di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) bobot hidup tingkat produsen. Bahkan ada yang menawar hingga Rp30.000 per kg bobot hidup,” paparnya.

Arief mengatakan, membantu mengatasi kondisi ini, PT Berdikari siap mendukung penyediaan tempat (kandang) yang berlokasi di Pabrik Gula (PG) Jatitujuh Majalengka dan Pupuk Kujang Cikampek, dengan kapasitas maksimal 600 ekor.

“Dalam skema ini peternak bisa menggunakan kandang Berdikari di luar biaya operasional, untuk menyimpan sapi-sapi tersebut sampai menunggu penjualan,” ujarnya

Sementara itu, Arief menambahkan, BUMD DKI Jakarta yang bergerak di bidang peternakan juga siap mendukung mengatasi kelebihan pasokan hewan kurban. Perumda Dharma Jaya berkomitmen menyerap 100-150 sapi yang tidak bisa kembali ke NTB dan NTT dengan harga wajar.

Tidak hanya di Jabodetabek, pelaku usaha ternak di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, telah menyampaikan siap membantu menyerap 300 ekor sapi.

“Untuk mengakomodir pembelian dari luar pulau, perlu dukungan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian terkait surat keterangan kesehatan hewan serta vaksin LSD (Lumpy Skin Desease),” tuturnya.

Dari asosiasi, menurut Arief, APDI menyampaikan siap membantu penjualan dalam bentuk daging.

“Jadi setelah sapi terserap dan diproses menjadi daging, pasarnya sudah kita siapkan melalui APDI. Maka dalam upaya ini, kita tidak hanya amankan hulunya dengan mendorong penyerapan tetapi juga mengamankan hilirnya,” jelas dia.

Lebih lanjut, Arief mengatakan, untuk mengkonkretkan langkah tersebut NFA melakukan koordinasi lanjutan dengan stakeholder daging nasional. Ia juga mendorong dilakukan komunikasi B to B antara peternak dan pelaku usaha untuk kesepakatan harga jual serta teknis pembayaran.

“Kita juga inventarisasi data peternak agar segera dihubungkan dengan calon pembeli potensial (pelaku/asosiasi). Pada intinya kita bantu bangun sinergi mencarikan solusi. Sangat disayangkan apabila (sapi-sapi tersebut) kembali ke daerah asal yang tentunya menimbulkan biaya tambahan, sementara di Jabodetabek masih mendatangkan daging sapi dari luar wilayah untuk memenuhi permintaan,” terang dia.

Guna mencegah tidak terjadi kembali, Arief mengatakan, ke depannya NFA akan melakukan kerja sama pendataan populasi dan lalu-lintas (keluar masuk) hewan ternak dengan provinsi-provinsi yang menjadi sentra sapi.

“Ini memperkuat data base, sehingga bisa diukur secara presisi berapa populasi sapi hidup di suatu wilayah dan berapa jumlah maksimal yang boleh keluar. Hal ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden yang menekankan penguatan sinergi untuk mengamankan pangan nasional,” ujar dia.

Sementara itu, Gubernur NTB Zulkieflimansyah yang berpartisipasi pada pertemuan tersebut menyampaikan respon positif atas upaya dan gerak cepat NFA mencari penyelesaian atas kelebihan pasokan sapi yang diantaranya berasal dari NTB. (dl)

Foto : Istimewa.

Bagikan