Arus Nila 2026: Membaca Arah Baru Bisnis dan Budidaya Tilapia

Arus Nila 2026: Membaca Arah Baru Bisnis dan Budidaya Tilapia
Spread the love

PODZOLIK.COM—Tilapia alias ikan nila, menjadi salah satu komoditas perikanan budidaya yang mendapat pehatian serius. Pasalnya, selain memiliki potensi dari sisi produksi, nila dalam negeri juga punya peluang memasok pasar ekspor. Meski demikian, budidaya dan bisnis tilapia Indonesia masih memiliki banyak beberapa kendala.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Arus Nila 2026 yang dilangsungkan di Cirebon, 30 September 2026. Acara yang digagas oleh Asosiasi Tilapia Indonesia (ATI) bersama majalah TROBOS Aqua tersebut, mengangkat tema besar Membaca Arah Baru Bisnis dan Budidaya Tilapia.

Fernando Simanjuntak, Direktur Ikan Air Payau, KKP, dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa peluang peningkatan produksi nila, salah satunya dilakukan melalui revitalisasi tambak Pantura. Menurutnya, dengan rencana revitalisasi seluas 14.000 hektare di Pantura, ikan nila salin sangat potensial menjadi komoditas yang terpilih dikembangkan.

“Jika 30% lahan saja digunakan sekitar 4.200 hektar, kebutuhan benih akan melonjak tajam. KKP tidak bisa bergerak sendiri dan wajib melibatkan Unit Perbenihan Rakyat (UPR) serta pelaku usaha,” beber Fernando.

Sementara itu, Alwi Tunggul Prianggolo, Ketua Umum ATI menyambut baik perhatian pemerintah terhadap pengembangan ikan nila. Ia berharap agenda tersebut dapat berefek positif bagi kehidupan para pembudidaya.

“Kami menyambut baik perhatian Pemerintah, termasuk terkait revitalisasi, prgram ini berpotensi mengghidupkan kembali tambak-tambakdi Pantura, membuka kesempatan usaha, dan menaikkan posisi ikan nila di Indonesia,” ungkapnya,

“Tetapi keberhasilan revitalisasi ini perlu kita ukur lebih luas, bukan sekadar luasan tambak yang dibangun bertambah, tetapi juga ukuranya harus terlihat dari usaha yang konsisten, lingkungan yang terjaga, dan manfaat yang dirasakan oleh petambak,” sambungnya.

Di tempat sama, Pamudi dari U.S. Soybean Export Council, menyebut daya saing produk nila Indonesia perlu dibangun melalui identitas produk dan pengelolaan berkelanjutan. Kebutuhan pasar terhadap ketertelusuran dan jejak karbon membuat pencatatan produksi, pemilihan bahan pakan, serta pengelolaan lingkungan semakin penting.

“Penguatan merek dapat membantu produk nila Indonesia dikenal di segmen-segmen pasar yang berbeda,” imbuh Pamudi.

Daya serap dalam negeri turut menjadi perhatian. Seperti yang diungkapkan oleh Rico, pembudidaya nila dari Yogyakarta yang turut hadir dalam acar tersebut. Ia mengingatkan bahwa pertumbuhan produksi perlu diikuti peningkatan konsumsi ikan.

Menanggapi hal itu, Heru Sulistio dari Direktorat Pemasaran KKP menyebut upaya mendorong konsumsi, antara lain penggunaan menu ikan dalam konsumsi rapat dan bazar produk perikanan. Ia berharap kegiatan serupa dapat diperluas di daerah.

Heru juga memaparkan perkembangan pasar internasional. Nilai impor nila global pada 2025 mencapai US$1,72 miliar dengan volume 627,69 ribu ton. Ekspor nila Indonesia pada tahun yang sama tercatat US$97,73 juta dengan volume 13,98 ribu ton. Amerika Serikat menjadi tujuan utama, diikuti Kanada dan Uni Eropa. Fillet beku mendominasi ekspor Indonesia. Untuk memasuki pasar ekspor, pelaku usaha perlu memenuhi persyaratan keamanan pangan, sertifikasi, keberlanjutan, dan ketertelusuran. (sr)

Bagikan