Kopi Premium Letfuan Asal Maluku, Produksinya Digenjot Kementan

Kopi Premium Letfuan Asal Maluku, Produksinya Digenjot Kementan
dok.ditjenbun.
Spread the love

PODZOLIK.COM—Mengatasi dampak perubahan iklim, menjadi tanggungjawab bersama, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman optimis produksi pertanian akan bertahan, bahkan meningkat pada 2024.

Sejalan dengan itu, Mentan Amran meminta jajarannya agar terus bersinergi dengan berbagai pihak terkait demi memitigasi dampak perubahan iklim yang begitu ekstrem, khususnya di sektor pertanian maupun perkebunan.

”Kami menghimbau kepada sahabat petani seluruh Indonesia, jangan melakukan pembakaran pada penyiapan lahan perkebunan. Optimalkan alat mesin pertanian yang kita berikan, penggunaan pupuk organik dan lainnya untuk menekan kebakaran lahan,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Ditjen Perkebunan khususnya Balai Besar Pebenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon, menginisiasi pemberian bantuan 30.000 benih kopi, 1500 kg pupuk NPK, dan 6.000 kg pupuk organik, kepada 7 kelompok tani di Maluku Tenggara (15/12/2023). Kelompok penerima bantuan adalah Lefmun, Tani Timun, Lapang Wahan, Wear Ahar, Tani Telengar, Men Tebal, dan Ilun Dareng

“Diharapkan bantuan ini dapat meningkatkan kesejahteraan dan nilai tukar petani, sehingga ada harapan bahwa komoditas kopi nantinya mengalami peningkatan produktivitas di masa yang akan datang,” harap Mentan.

Sebelumnya, Dirjen Perkebunan Andi Nur Alam Syah telah menghimbau agar semua stakeholder bersinergi demi peningkatan hasil produksi, serta saling menguatkan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Sementara itu, Kepala BBPPTP Ambon Anwar Nur menyampaikan agar tim tugas di lapangan memberikan arahan agar alat dan bahan yang diberikan effisien dan efektif. Dengan begitu, diharapkan nilai tukar petani (NTP) petani Maluku Tenggara meningkat melalui dari subsektor perkebunan.

Ketua KT Lefmun, Yohanis B. Mayabubun, berterimakasih atas bantuan tersebut. Menurutnya, dengan adanya bantan tersebut, produksi kopi di tempatnya bisa meningkat menjadi 1 ton per hektare.

Di temapat sama, Philips, perwakilan koperasi petani yang menjadi mitra dari petani mengatakan bahwa kopi yang dihasilkna petani merupakan kopi premium dengan potensi harga jual Rp300—400 ribu per kg. Kopi tersebut biasa dinamakan Kopi Letfuan dengan cita rasa perpaduan anatara robusta dan arabika.

“Kopi ini sudah dipamerkan dibeberapa acara Nasional dan bahkan dibawa serta diuji dikancah Internasional secara mandiri oleh peminat kopi Letfuan di Belanda. Namun karena minimnya sarana serta prasarana yang dimiliki petani, menjadikan produktivitasnya kurang dari 1 ton per hektare,” pungkasnya. (dl)

Bagikan